Cerita ini sebenarnya terjadi tahun lalu, yaitu tepat satu tahun pada saat aku menulis tulisan ini (Hari kedua Hari Raya idul Fitri 1430 H), seperti kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, setiap Hari raya Idul Fitri ada tradisi “Pulkam” atau Mudik ke kampung Halaman, kebetulan waktu itu aku ada kesempatan karena memang jadwalku libur kantor, jadi aku putuskan untuk Mudik bareng keluarga ke Tuban, kota kelahiranku tercinta.
Pagi itu (hari Pertama Hari Raya) dengan menggunakan Mobil Sedan Kesayanganku (walaupun agak sedikit tua tapi masih ngacir lho..), aku bersama Istri dan Kedua anak Perempuanku yang Lucu dan Imut dengan santai menyusuri Jalur Pantura (Daendels), karena pada saat itu jalur Gresik - Tuban yang melewati Kota Babat sedang dalam Perbaikan akibat jalan yang bergelombang. seperti biasa, canda dan tawa anak anak selalu menyertai perjalanan kami, saat itu Rasanya bahagia sekali dalam hati, karena sebentar lagi kami akan bertemu orang orang yang kami sayangi yang sudah lama tidak bertemu.
Karena lelah dan ngantuk, takut terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan, sesekali aku putuskan untuk berhenti sejenak melepas lelah akibat kecapaian habis kena jadwal piket malam di kantor. aku memutuskan untuk beristirahat di dekat taman Rekreasi Wisata Bahari Lamongan (WBL) atau yang dulunya di sebut Pantai Tanjung Kodok - Paciran Lamongan.
Sambil melihat pemandangan Pantai yang indah, kami istirahat dan makan bersama. kami memang sengaja membawa perbekalan makanan berupa Nasi Krawu (Makanan Khas Gresik) dari rumah. Nikmat banget rasanya saat itu makan nasi krawu bersama keluarga di tepi pantai Tanjung Kodok. “oh Tuhan.., Sungguh besar karunia yang Engkau berikan kepada kami. Alam yang Engkau Ciptakan ini sungguh benar benar sangat Indah”.
Setelah kita rasa Istirahat cukup, lalu perjalanan kami lanjutkan, dan akhirnya sampailah kami ke kampung halaman. seperti biasanya kami langsung “sungkem” (bersalaman dan mencium tangan) ke kedua orang tua untuk mohon maaf atas kesalahan dan dosa dosa kami selama ini, setelah itu kami lanjutkan silaturahmi ke tetangga tetangga dekat rumah dan saudara serta sanak Famili yang ada di kampung.
Singkat Cerita……
Karena waktu yang memang sangat terbatas, aku tidak bisa tinggal terlalu lama di Kampung, aku hanya menginap sampai menjelang sholat subuh, karena paginya aku harus kerja lagi. Pukul 03.30 wib (dini hari) aku bangun bermaksud untuk memanaskan mesin mobil, mugkin karena kecapean atau kurang tidur aku jadi sedikit teledor, entah apa yang ada dalam benak aku waktu itu, aku ambil saja kunci kontak mobil yang oleh adik ku di letakkan di atas televisi diruang tamu, dengan mata agak sedikit terpejam aku menghampiri mobilku yang sebelumnya di pindah oleh adikku ke garasi karena sebelumnya aku parkir dekat jalan dan menghalangi kendaraan lain yang mau lewat.
Aku buka pintu Mobilku lalu aku masukkan kunci kontak dari luar mobil, tanpa aku masuk kedalam mobil, pikirku waktu itu posisi gigi prosneleng dalam keadaan Nol, karena memang kebiasaan aku setiap parkir mobil pasti aku Nol kan, Alangkah kagetnya aku ketika terdengar suara benturan yang keras..“Gdubrakkk…!!!”, suara mobilku yang menghantam Pagar rumah hingga hancur berantakan, Astagfirullahal’adziim…, ternyata setelah mobil di pindahkan oleh adik ku ke Garasi, Gigi Prosneleng dalam keadaan Masuk dan tidak di Nol kan lagi.
Aku hanya bisa tertegun saat itu, hampir tidak percaya atas apa yang barusan terjadi, dengan sedikit gemetar aku bersihkan reruntuhan pagar rumah orangtua ku. tetangga tetangga sebelah yang mendengar suara keras itu kontan saja keluar rumah, karena kebetulan memang saat itu sudah hampir masuk waktu sholat shubuh.
Walaupun sedikit menyesal karena mobil kesayanganku “ringsek”, namun dalam hati aku sangat “Bersyukur…“, Alhamdulillah ya Allah…, mobilku hanya menabrak pagar rumah orang tuaku, aku tidak bisa membayangkan seandainya tadi di depan mobilku ada anak anak dan istriku (karena memang biasanya seperti itu) pastilah akan lenyap semua kebahagiaan yang aku rasakan selama ini.
(Kang Yudhie)




